Delapan belas tahun lalu aku terlahir
sebagai anak pertama dari pasangan suami-istri muda. Ayahku bernama Naslim dan
ibuku bernama Winarti, dan aku sendiri bernama Handi Satrio. Aku lahir pada 28
juni 1994 disebuah desa kecil di pinggiran kabupaten Banyumas, masa kecilku aku
lalui di keluarga kecil ini dengan senang dan bahagia, maklum aku menjadi anak
pertama sekaligus sebagi cucu pertama dari kakek-nenekku. Namun semua itu tidak
berlangsung lama, Ayahku dipanggil lebih cepat oleh yang Allah SWT pada saat
aku baru berumur 8 tahun. Aku sangat terpukul dengan kepergian ayah begitupun
juga ibuku, ibuku sempat bingung juga bagaiman mau menghidupiku setelah
kepergian ayah,sebelumnya ibuku hanya ibu rumah tangga biasa dengan pendidikan
akhir SMP. Kemudian aku dan ibuku berjuang bersama untuk bisa bertahan hidup
dan mampu menyekolahkanku dengan menjadi buruh serabutan dipasar sempat juga
berjualan pecel keliling kampung tiap sore,kadang aku membantu berjualan gorengan
sambil mengikuti ibuku berjualan pecel, itu semua berlangsung hampir tiga
tahun, sampai pada akhirnya ibuku memutuskan untuk menikah lagi karena ibu
merasa tidak mampu apabila harus menghidupiku seorang diri dengan mata
pencaharian yang tidak pasti. Ibuku menikah dengan duda beranak dua bernama
Muhdiro ketika aku mau amsuk SMP. Sehingga aku memiliki satu adik dan satu
kakak,Ayahku ini bekerja sebagai penjual krupuk kepasar-pasar
didaerahku,sehingga cukup berat juga untuk menghidupi tiga orang anak apalagi
beda usia sekolahku dengan kaka tiriku Cuma satu tahun jadi biaya untuk
sekolahpun harus dibagi-bagi dan kadang hutang.
SMP aku bersekolah di SMP
Negeri 1 Jatilawang, prestasiku di SMP tidak sebagus waktu di SD yang hampir
tiap catur wulan mendapat rangking satu tapi tidak mengapa aku tetap berjuang
untuk bisa mendapat yang terbaik. Dari kelas satu SMP aku berangakat sekolah
dengan berjalan kaki, sepeda menjadi sesuatu yang mahal untukku tapi tak
mengapa selama aku masih bisa bersekolah menurutku jalan masih terbuka tidak
harus semua saran tercukupi. Aku satu sekolah dengan kakakku sehingga
mendapatkan keringan biaya gedung dan SPP, ini menjadi pemacu semangatku untuk
berjuang lebih keras lagi mendapat prestasi yang lebih baik. Ketika aku kelas
tiga SMP kakakku sudah lulus SMP, dia berniat melanjutkan sekolah di sekitar
daerahku tapi ayahku merasa tidak mampu untuk menyekolahkan kakakku jadi dengan
sangat terpaksa kakak harus ikut dirumah nenek diadaerah Indramayu untuk
disekolahkan nenek dan keluarga.
Masuk SMA
orangtuaku harus hutang sana-sini untuk tetap bisa menyekolahkanku, yah
beginilah keadaan ekonomi keluargaku memang sangat kurang tapi orang tuaku
berusah untuk tetap menyekolahkanku. Aku bersekolah di SMA Negeri Jatilawang,
tiga tahu aku juga berjalan kaki kesekolah dengan jarak kurang lebih dua
kilometer. Di SMA aku sadar bahwa aku harus bisa membanggakan orang tua dan
berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang tua, aku sempat berjualan jam
tangan di SMA aku berjualan kepada teman sekelas dengan untung dibagi dua dngan
pemilik jam tangan. Hasilnya lumayan untuk membantu pembayaran uang buku dan
perlengkapan sekolahku. Prestasiku di SMA cukup bagus hampir tiap semester aku
mendapat rangking 3 besar. Karena prestasiku tersebut alhamdulillah aku
mendapat beasiswa dari sekolah untuk keringanan pembayaran uang SPP dan
pembangunan. Akhir kelas sebelas SMA orangtuaku mencoba membuat krupuk sendiri
yang tadinya hanya menjual milik orang lain sehingga aku harus ikut membantu
orang tuaku,dari mulai jam setengah 4 pagi aku harus sudah bangun untuk membuat
adonan dengan ayahku smpai denganjam 6 pagi, setelah itu aku berangkat sekolah
dan pulangnya aku mulai membatu lagi sampai dengan sebelum maghrib, itu aku
jalani hampir setiap hari. Sempat terbesit dipikiranku bagaiman aku bisa
merubah keadaan ini menjadi lebih baik sehingga adikku tidak perlu ikut
bersusah payah nantinya. Singkat cerita aku mendapat informasi pendaftaran
jalur PBUTM SV UGM aku mencoba mendaftar, semuanya aku urus sendiri tanpa
memberi tahu orang tua terlebih dahulu aku tahu orang tuaku tidak akan setuju
apabila aku kuliah karena untuk membiayai aku SMA pun harus hutang sana-sini.
Akhirnya aku menyelesaikan semua tahap pendaftaran dan diterima di program
studi teknik mesin, setelah diterima bukannya senang malah aku bingung bagaiman
aku meykinkan orang tuaku supaya mereka mengizinkanku kuliah. Akhirnya orang
tuaku mengizinkanku kuliah dengan bantuan dari pamanku yang berusaha meyakinkan
orang tuaku. Kakekku harus merelakkan kambingnya dijual untuk uang pembayaran
kos ku selama setahun,supaya tidak begitu memmberatkan sehinnga aku ngekos
berdua dengan temanku. Untuk makan aku membawa beras dari rumah dan aku masak
sendiri di kos bergantian dengan temanku,aku merasa uang pemberian kakekku
masih belum cukup untuk biaya hidup karena aku hanya diberi 150.000/bulan,
akhirnya aku mencoba mendaftar tunjangan hidup R-ZIS UGM dan alhamdulillah
diterima. Sehingga tiap bulannya aku mendapat tambahan uang untuk hidup. Sampai
sekarang aku masih bingung kenapa penerima beasiswa PBUTM SV tidak menerima
biaya hidup dari UGM padahal kami sangat membutuhkan. Smpai sekarang aku juga
masih harus pinjam laptop sana-sini untuk mengerjakan tugas. Tapi tidak apa aku
harus isa mengalahkan keadaan apabila aku ingin sukses. Aku hanya ingin melihat
almarhum ayahku bisa tersenyum disana melihat perjuangan putramu utuk
membahagiakan ibu dan ayah.
Terima kasih kepada R-ZIS
UGM yang telah membantu saya selama ini....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar