Artikel Populer


Selamat Datang di Blog Resmi RZIS UGM

Jumat, 28 Juni 2013

AYAH AKU BISA KULIAH by Handy Satrio, Teknik Mesin 2012



Delapan belas tahun lalu aku terlahir sebagai anak pertama dari pasangan suami-istri muda. Ayahku bernama Naslim dan ibuku bernama Winarti, dan aku sendiri bernama Handi Satrio. Aku lahir pada 28 juni 1994 disebuah desa kecil di pinggiran kabupaten Banyumas, masa kecilku aku lalui di keluarga kecil ini dengan senang dan bahagia, maklum aku menjadi anak pertama sekaligus sebagi cucu pertama dari kakek-nenekku. Namun semua itu tidak berlangsung lama, Ayahku dipanggil lebih cepat oleh yang Allah SWT pada saat aku baru berumur 8 tahun. Aku sangat terpukul dengan kepergian ayah begitupun juga ibuku, ibuku sempat bingung juga bagaiman mau menghidupiku setelah kepergian ayah,sebelumnya ibuku hanya ibu rumah tangga biasa dengan pendidikan akhir SMP. Kemudian aku dan ibuku berjuang bersama untuk bisa bertahan hidup dan mampu menyekolahkanku dengan menjadi buruh serabutan dipasar sempat juga berjualan pecel keliling kampung tiap sore,kadang aku membantu berjualan gorengan sambil mengikuti ibuku berjualan pecel, itu semua berlangsung hampir tiga tahun, sampai pada akhirnya ibuku memutuskan untuk menikah lagi karena ibu merasa tidak mampu apabila harus menghidupiku seorang diri dengan mata pencaharian yang tidak pasti. Ibuku menikah dengan duda beranak dua bernama Muhdiro ketika aku mau amsuk SMP. Sehingga aku memiliki satu adik dan satu kakak,Ayahku ini bekerja sebagai penjual krupuk kepasar-pasar didaerahku,sehingga cukup berat juga untuk menghidupi tiga orang anak apalagi beda usia sekolahku dengan kaka tiriku Cuma satu tahun jadi biaya untuk sekolahpun harus dibagi-bagi dan kadang hutang.
SMP aku bersekolah di SMP Negeri 1 Jatilawang, prestasiku di SMP tidak sebagus waktu di SD yang hampir tiap catur wulan mendapat rangking satu tapi tidak mengapa aku tetap berjuang untuk bisa mendapat yang terbaik. Dari kelas satu SMP aku berangakat sekolah dengan berjalan kaki, sepeda menjadi sesuatu yang mahal untukku tapi tak mengapa selama aku masih bisa bersekolah menurutku jalan masih terbuka tidak harus semua saran tercukupi. Aku satu sekolah dengan kakakku sehingga mendapatkan keringan biaya gedung dan SPP, ini menjadi pemacu semangatku untuk berjuang lebih keras lagi mendapat prestasi yang lebih baik. Ketika aku kelas tiga SMP kakakku sudah lulus SMP, dia berniat melanjutkan sekolah di sekitar daerahku tapi ayahku merasa tidak mampu untuk menyekolahkan kakakku jadi dengan sangat terpaksa kakak harus ikut dirumah nenek diadaerah Indramayu untuk disekolahkan nenek dan keluarga.



Masuk SMA orangtuaku harus hutang sana-sini untuk tetap bisa menyekolahkanku, yah beginilah keadaan ekonomi keluargaku memang sangat kurang tapi orang tuaku berusah untuk tetap menyekolahkanku. Aku bersekolah di SMA Negeri Jatilawang, tiga tahu aku juga berjalan kaki kesekolah dengan jarak kurang lebih dua kilometer. Di SMA aku sadar bahwa aku harus bisa membanggakan orang tua dan berusaha untuk tidak menjadi beban bagi orang tua, aku sempat berjualan jam tangan di SMA aku berjualan kepada teman sekelas dengan untung dibagi dua dngan pemilik jam tangan. Hasilnya lumayan untuk membantu pembayaran uang buku dan perlengkapan sekolahku. Prestasiku di SMA cukup bagus hampir tiap semester aku mendapat rangking 3 besar. Karena prestasiku tersebut alhamdulillah aku mendapat beasiswa dari sekolah untuk keringanan pembayaran uang SPP dan pembangunan. Akhir kelas sebelas SMA orangtuaku mencoba membuat krupuk sendiri yang tadinya hanya menjual milik orang lain sehingga aku harus ikut membantu orang tuaku,dari mulai jam setengah 4 pagi aku harus sudah bangun untuk membuat adonan dengan ayahku smpai denganjam 6 pagi, setelah itu aku berangkat sekolah dan pulangnya aku mulai membatu lagi sampai dengan sebelum maghrib, itu aku jalani hampir setiap hari. Sempat terbesit dipikiranku bagaiman aku bisa merubah keadaan ini menjadi lebih baik sehingga adikku tidak perlu ikut bersusah payah nantinya. Singkat cerita aku mendapat informasi pendaftaran jalur PBUTM SV UGM aku mencoba mendaftar, semuanya aku urus sendiri tanpa memberi tahu orang tua terlebih dahulu aku tahu orang tuaku tidak akan setuju apabila aku kuliah karena untuk membiayai aku SMA pun harus hutang sana-sini. Akhirnya aku menyelesaikan semua tahap pendaftaran dan diterima di program studi teknik mesin, setelah diterima bukannya senang malah aku bingung bagaiman aku meykinkan orang tuaku supaya mereka mengizinkanku kuliah. Akhirnya orang tuaku mengizinkanku kuliah dengan bantuan dari pamanku yang berusaha meyakinkan orang tuaku. Kakekku harus merelakkan kambingnya dijual untuk uang pembayaran kos ku selama setahun,supaya tidak begitu memmberatkan sehinnga aku ngekos berdua dengan temanku. Untuk makan aku membawa beras dari rumah dan aku masak sendiri di kos bergantian dengan temanku,aku merasa uang pemberian kakekku masih belum cukup untuk biaya hidup karena aku hanya diberi 150.000/bulan, akhirnya aku mencoba mendaftar tunjangan hidup R-ZIS UGM dan alhamdulillah diterima. Sehingga tiap bulannya aku mendapat tambahan uang untuk hidup. Sampai sekarang aku masih bingung kenapa penerima beasiswa PBUTM SV tidak menerima biaya hidup dari UGM padahal kami sangat membutuhkan. Smpai sekarang aku juga masih harus pinjam laptop sana-sini untuk mengerjakan tugas. Tapi tidak apa aku harus isa mengalahkan keadaan apabila aku ingin sukses. Aku hanya ingin melihat almarhum ayahku bisa tersenyum disana melihat perjuangan putramu utuk membahagiakan ibu dan ayah.

Terima kasih kepada R-ZIS UGM yang telah membantu saya selama ini....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar