Nama ku Herlin Safana. Teman-teman biasa
memanggil ku Herlin. Aku lahir di Bantul Yogyakarta. Sekarang tinggal bersama
kedua orang tuaku di sebuah rumah kecil di tepi Jalan Parangtritis, tepatnya 15
menit dari Pantai Parangtritis. Aku terlahir bukan dari keluarga kaya dan
berada, tapi aku memiliki keinginan kuat dan cita-cita yang mungkin sulit untuk
menggapainya dengan keadaan kami seperti ini. Aku merupakan anak ke tiga dari 3
bersaudara. Praktis kedua orang tuaku harus membiayai sekolah ketiga anaknya.
Kedua orang tuaku bukan lulusan SMA apalagi seorang sarjana. Jangankan bangku
SMA/SMK bangku Sekolah Dasarpun belum tamat, dan lagi lagi hal itu karna biaya.
Karena pengalaman masa lalu maka dari itu kedua orang tua kami selalu berusaha
untuk membesarkan dan sebisa mungkin menyekolahkan kami setinggi-tingginya.
Dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kami bertiga
berusaha mencari beasiswa agar tidak memberatkan kedua orangtua kami dalam
biaya kuliah. Akan tetapi orang tuaku selalu berpesan untuk menjaga amanah
pemberi beasiswa dengan cara menggunakan beasiswa tersebut dengan sebaik
mungkin. Yaitu dengan belajar sungguh-sungguh dan berusaha untuk selalu
berprestasi. Salah satu hal yang sampai sekarang masih ku ingat dan akan terus
menjadi pembelajaran bagi ku yaitu perjuangan ku saat akan mengikuti kemah SMA.
Waktu itu kebutuhan kedua orang tuaku sangat besar, menyarankan untuk tidak
mengikuti kemah tersebut karena keterbatasan biaya. Seperti biasa aku berangkat
ke sekolah dengan Bus umum. Saat akan memasuki kelas aku menyempatkan untuk
membaca papan pengumuman di sekolah. Ternyata ada perlombaan pidato berbahasa
Jawa tingakat Jogja-Jateng yang hadiahnya cukup lumayan untuk menbayar kemah
dan uang saku. Sepulang sekolah aku beranikan diriku untuk meminta uang
pendaftaran kepada orang tuaku. Tetapi orang tuaku berpesan memberikan uang
tersebut tetapi aku harus memenangkan lomba tersebut.
Dengan penuh keyakinan
aku mengiyakan. Ku susun naskah pidato itu sendiri, dan berlatih sendiri.
Hingga tiba waktu perlombaan dan dengan penuh
keyakinan aku berangkat ke lokasi dengan bus umum tanpa didampingi siapapun.
Aku bisa memaklumi hal itu karena kedua orang tuaku sibuk bekerja. Pada
akhirnya aku berhasil mendapatkan hadiah tersebut meskipun hanya juara ketiga
tapi aku bangga dengan membawa pulang sebuah trophy mungil, dan berdesakan
dengan penumpang lain di bus umum. Dari hasil kerja keras itu aku bisa mengikuti
kemah SMA seperti teman-teman ku. Beberapa hari setelah kejadian itu aku
dipanggil guru Bahasa Jawa ku. Ternyata sekolah memberikan tawaran akan
meberikan beasiswa 1 bulan SPP dengan catatan Trophy tersebut diserahkan pihak
sekolah, sedangkan untuk dublikasi trophy aku harus membayarnya sendiri. Karena
saat itu aku menunggak SPP 3 bulan, akhirnya aku menyerahkan trophy tersebut
dan mendapatkan reward gratis SPP 1 bulan. Karena saat itu dublikasi trophy
harganya lumayan mahal, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendublikasinya.
Akan tetapi meskipun di rumah kini tidak ada kenang-kenangan trophy yang
menghiasi almari ruang tamu tetapi semangat kerja keras untuk berprestasi dan
mendapatkan hal yang aku inginkan selalu tersimpan didiriku sampai kapan pun
terlebih saat ini, dimana menjadi mahasiwa UGM yang sudah saatnya mengukir
prestasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar