Artikel Populer


Selamat Datang di Blog Resmi RZIS UGM

Jumat, 28 Juni 2013

Semua Butuh Umpan 'Kerja Keras' Untuk Sebuah Keberhasilan by Herlin Safana, Fak. Biologi 2009


Nama ku Herlin Safana. Teman-teman biasa memanggil ku Herlin. Aku lahir di Bantul Yogyakarta. Sekarang tinggal bersama kedua orang tuaku di sebuah rumah kecil di tepi Jalan Parangtritis, tepatnya 15 menit dari Pantai Parangtritis. Aku terlahir bukan dari keluarga kaya dan berada, tapi aku memiliki keinginan kuat dan cita-cita yang mungkin sulit untuk menggapainya dengan keadaan kami seperti ini. Aku merupakan anak ke tiga dari 3 bersaudara. Praktis kedua orang tuaku harus membiayai sekolah ketiga anaknya. Kedua orang tuaku bukan lulusan SMA apalagi seorang sarjana. Jangankan bangku SMA/SMK bangku Sekolah Dasarpun belum tamat, dan lagi lagi hal itu karna biaya. Karena pengalaman masa lalu maka dari itu kedua orang tua kami selalu berusaha untuk membesarkan dan sebisa mungkin menyekolahkan kami setinggi-tingginya. Dengan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kami bertiga berusaha mencari beasiswa agar tidak memberatkan kedua orangtua kami dalam biaya kuliah. Akan tetapi orang tuaku selalu berpesan untuk menjaga amanah pemberi beasiswa dengan cara menggunakan beasiswa tersebut dengan sebaik mungkin. Yaitu dengan belajar sungguh-sungguh dan berusaha untuk selalu berprestasi. Salah satu hal yang sampai sekarang masih ku ingat dan akan terus menjadi pembelajaran bagi ku yaitu perjuangan ku saat akan mengikuti kemah SMA. Waktu itu kebutuhan kedua orang tuaku sangat besar, menyarankan untuk tidak mengikuti kemah tersebut karena keterbatasan biaya. Seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan Bus umum. Saat akan memasuki kelas aku menyempatkan untuk membaca papan pengumuman di sekolah. Ternyata ada perlombaan pidato berbahasa Jawa tingakat Jogja-Jateng yang hadiahnya cukup lumayan untuk menbayar kemah dan uang saku. Sepulang sekolah aku beranikan diriku untuk meminta uang pendaftaran kepada orang tuaku. Tetapi orang tuaku berpesan memberikan uang tersebut tetapi aku harus memenangkan lomba tersebut.
Dengan penuh keyakinan aku mengiyakan. Ku susun naskah pidato itu sendiri, dan berlatih sendiri.
Hingga tiba waktu perlombaan dan dengan penuh keyakinan aku berangkat ke lokasi dengan bus umum tanpa didampingi siapapun. Aku bisa memaklumi hal itu karena kedua orang tuaku sibuk bekerja. Pada akhirnya aku berhasil mendapatkan hadiah tersebut meskipun hanya juara ketiga tapi aku bangga dengan membawa pulang sebuah trophy mungil, dan berdesakan dengan penumpang lain di bus umum. Dari hasil kerja keras itu aku bisa mengikuti kemah SMA seperti teman-teman ku. Beberapa hari setelah kejadian itu aku dipanggil guru Bahasa Jawa ku. Ternyata sekolah memberikan tawaran akan meberikan beasiswa 1 bulan SPP dengan catatan Trophy tersebut diserahkan pihak sekolah, sedangkan untuk dublikasi trophy aku harus membayarnya sendiri. Karena saat itu aku menunggak SPP 3 bulan, akhirnya aku menyerahkan trophy tersebut dan mendapatkan reward gratis SPP 1 bulan. Karena saat itu dublikasi trophy harganya lumayan mahal, akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendublikasinya. Akan tetapi meskipun di rumah kini tidak ada kenang-kenangan trophy yang menghiasi almari ruang tamu tetapi semangat kerja keras untuk berprestasi dan mendapatkan hal yang aku inginkan selalu tersimpan didiriku sampai kapan pun terlebih saat ini, dimana menjadi mahasiwa UGM yang sudah saatnya mengukir prestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar