Namaku Mochamad Alfian Nur Khusain, berasal dari sebuah kota kecil bernama Tulungagung di Jawa Timur. Di sinilah dimulai kisahku, terlahir dari rahim seorang ibu bernama Umi marbitah 19 tahun yang lalu, aku adalah putra ketiga dari tiga bersaudara. Jarak usia kami tidak terpantau begitu jauh kakak pertamaku tujuh tahun lebih tua daripada aku, Ali Ajibullah Ikhsan namanya dan kakak keduaku bernama Erry Murniasih empat tahun lebih tua daripada aku. Sejak kecil aku hidup dalam keadaan yang sederhana, dan mungkin kata ‘cukup’ itu yang terus membuatku merasa bahagia untuk menjalaninya. Dan memang itulah yang selalu diajarkan bapakku ya merasa ‘cukup’, bapak selalu berkata orang yang paling kaya di dunia ini adalah orang yang selalu merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
Ketika SD alhamdulillah aku selalu mendapatkan rangking di kelas, dan paling jelek aku mendapatkan ringking 2 di kelas. Di bangku sekolah dasar uang saku ku tidak lebih daari 500 rupiah, yang pada waktu itu sudah cukup untuk membeli bubur di waktu istirahat. Ketika duduk di bangku kelas 6 SD aku bbercita-cita untuk masuk ke SMP favorit di Tulungagung, namun ibuk aku ternyata tidak menyetujuinya beliau menginginkan anaknya untuk melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah dan akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah. Madrasah Tsanawiyah Negeri Tulungagung, Mts ku berjarak 7,5 km dari rumahku, dengan berkendara sepedah pancal, aku membutuhkan 45 menit untuk sampai ke sekolah. Semanagat untuk menuntut ilmu selalu aku tancapkan dalam hati yang membuatku merasa bahagia menjalaninya.
Ketika melanjutkan ke Madrasah Aliyah aku merasa menemukan banyak sekali hal baru disini. Aku mulai mengenal organisasi disini mulai merasa benar-benar mempunyai teman di sini. Di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung ini aku mendapatkan beasiswa di setiap semesternya karena ke aktifanku di organisasi. Di bangku Madrasah Aliyah ini aku memiliki keinginan yang begitu kuat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri, aku selalu bermimpi untuk bisa melanjutkan sekolah ke jogja, tidak tahu mengapa tapi aku begitu ingin melanjutkan sekolah di Jogja. Namun kedua orang tuaku sudah tidak mampu lagi untuk menyekolahkanku, mereka menyaranbkan aku untuk bekerja saja. Mimpiku paling besar adalah bisa melanjutkan sekolah di UGM Jogjakarta, tapi keadaan ekonomi keluarga ku tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah. Ketika aku bilang aku ingin melanjutkan sekolah bapak berkata padaku “ siapa yang tidak ingin anaknya bisa melanjutkan kuliah, semua bapak pasti ingin anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, tapi mau bagaimana lagi, kita benar-benar tidak punya uang”. Kedua kakakku memang tidak ada yang di kuliahkan oleh orang tuaku, kakaku yang pertama masuk ke STAIN di Tulungagung karena mendapat bantuan dari kakek. S2 nya pun mendapatakn beasiswa dari dosennya.
Ketika melanjutkan ke Madrasah Aliyah aku merasa menemukan banyak sekali hal baru disini. Aku mulai mengenal organisasi disini mulai merasa benar-benar mempunyai teman di sini. Di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tulungagung ini aku mendapatkan beasiswa di setiap semesternya karena ke aktifanku di organisasi. Di bangku Madrasah Aliyah ini aku memiliki keinginan yang begitu kuat untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri, aku selalu bermimpi untuk bisa melanjutkan sekolah ke jogja, tidak tahu mengapa tapi aku begitu ingin melanjutkan sekolah di Jogja. Namun kedua orang tuaku sudah tidak mampu lagi untuk menyekolahkanku, mereka menyaranbkan aku untuk bekerja saja. Mimpiku paling besar adalah bisa melanjutkan sekolah di UGM Jogjakarta, tapi keadaan ekonomi keluarga ku tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah. Ketika aku bilang aku ingin melanjutkan sekolah bapak berkata padaku “ siapa yang tidak ingin anaknya bisa melanjutkan kuliah, semua bapak pasti ingin anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, tapi mau bagaimana lagi, kita benar-benar tidak punya uang”. Kedua kakakku memang tidak ada yang di kuliahkan oleh orang tuaku, kakaku yang pertama masuk ke STAIN di Tulungagung karena mendapat bantuan dari kakek. S2 nya pun mendapatakn beasiswa dari dosennya.
Kakak ku yang kedua karena dia putri akhirnya dia menikah setelah 2 tahun kelulusannya dari SMK. Sebenarnya pada waktu itu ada beasiswa bidikmisi yang menanggung semua biaya kuliah serta memberi biaya hidup. Namun sayangnya akrena kau tidak begitu berprestasi akademik sehingga menutup kesempatan itu. Pada akhirnya akau hanya bergantung pada kakak keduaku yang memang sudah bekerja, kakakku memutuskan mau membiayai kuliahku jika aku bisa diterima di UGM, aku memilih di UGM karena aku memang sangat ingin bersekolah di Jogja, selain itu UGM satu-satu Universitas yang memungkinkan mahasiswanya untu bebas dari biaya SPMA, pada waktu itu aku mendapatkan beasiswa SPMA 0. Alhamdulillah lewat jalur tulis SNMPTN aku diterima di UGM Fakultas Pertanian, orang tuaku adalah seorang petani sehingga itu yang membuatku ingin menuntut ilmu di Fakultas Pertanian. Kakakku ke dua yang sudah membiayai aku memang sudah berkeluarga dan mempunyai anak, itulah mengapa aku harus benar-benar berusaha mendapatkan beasiswa agar aku bisa meringankan beban kakakku. Alhamdulillah aku mendapatkan beasiswa dari R-ZIS dan semester ini adalah semester kedua aku mendapatkan beasiswa ini. Beasiswa ini benar-benar membantuku disini, karena dengan beasiswa ini aku bisa memenuhi kebutuhan kuliahku. Terimakasih R-ZIS J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar