Artikel Populer


Selamat Datang di Blog Resmi RZIS UGM

Sabtu, 29 Juni 2013

Memorial Secuil Pelajaran Hidup by Maulya Septi Sari FTP 2012

Bismillah.....
Karakter yang nekad, dan optimistik merupakan anugrah yang diberikan sang pencipta untukku, Maulya Septi Sari. Sejak kecil saya memang diberi ruang untuk memutuskan suatu pilihan yang akan saya jalani, salah satunya adalah mengenai pendidikan. Sejak SD saya berkeinginan kuat untuk melanjutkan studi sampai bangku kuliah. Disaat kebanyakan dari teman-temanku berorientasi untuk bekerja. Perjalanan menempuh jenjang pendididikan SMP dan SMA dapat kulalui. Meskipun jalanya tidak mulus.


Ketika lulus SD, dimana keadaan ekonomi yang masih baik, walaupun pekerjaan bapak tidak tetap tapi kekurangan kebutuhan masih dapat ditutupi oleh warisan mamaku. Ketika aku memasuki SMP kelas 2, ekonomi keluarga mulai tergoncang, disitulah mulai kurasakan perubahan yang menurutku berat, tapi karena sekolah adalah tempat yang menyenagkan bagiku kala itu, selalu ada jalan dari permasalahan dimana orang tuaku tidak sanggup membayar uang SPP ku. Aku dibiayai oleh salah satu pengusaha sukkses di Desaku selama tahun ke-2. Ditahun ke-3 aku mendapat beasiswa dari sekolah sehingga dapat gratis di tahun ke-3.
Dengan karakterku itu, aku sangat ambisisus masuk ke SMA favorit di kabupaten. Aku berpikir bahwa dengan aku masuk kesitu aku akan mendapat pengalaman yang lebih menarik tentunya. meskipun sungguh kedua orangtuaku tidak dapat membayar uang pendidikanya, bahkan untuk sekadar transportasi dari desa(rumahku) ke kota(sekolah) pun tidak ada jaminan. Alhamdulilah aku selalu mendapatkan beasiswa 3 tahun bersekolah disana.

Ambisisusnya diriku akan ilmu, telah membawaku pada posisi dimana aku merasakan kegagalan yang amat berat. Mindsetku kala itu, Dengan ilmu maka aku bisa mengubah masa depan nasib keluarga, mendapat materi, kedudukan, menjadi pemimpin, dan disegani selain mempunyai nilai lebih dari yang lain karena ilmu yang kita punya. Menjadi anak pertama adalah ujung tombak bagi adik-adikmu, itulah kata yang selalu terucap dari bapakku. Beliau selalu mendukung apa yang saya putuskan yang sekiranya jika dipertimbangkan dapat masuk diakal.
Pandangan kala itu sekarang bisa mendefinisikanya sebagai pandangan kapitalis, justru membuat aku berpikir ulang mengenai kenapa aku harus kuliah?? Bayak tuh sarjana nganggur,, buang uang,, ga jelas juga hasilnya. Jawaban ideologis tidak dapat saya temukan, sampai pada kebingungan yang membuat aku gagal dalam meraih status mahasiswa teknik metalurgi Universitas Indonesia. Tidak berhenti sampai disitu, akupun kembali ditolak oleh STIS, serta metrologi dan instrumentasi ITB.
Ke-3 penolakan ini sangat membuat aku down, yang aku rasakan lebih pada tidak teganya melihat ke-dua orangtua yang begitu berharap padaku, biaya, tenaga dan pikiran yang secara serius dicurahkan mereka yang sungguh aku sanagt mengecewakan. Dampak bagi diriku adalah sampai pada aku tidak berani membayangkan masa depan, lalu aku mengalihkan fokus untuk bekerja dahulu, tetapi sungguh aku sangat menyadari bahwa aku sangat menyenangi dunia pendidikan, aku merasakan kerinduakan akan dunia kampus, ditahun kedua pasca kelulusanku aku mencoba untuk masuk di Teknik Pertanian UGM.
Juli 2012 adalah hadiah spesial yang diberikan sang pencipta untuk luka 2 tahun lalu juga sebagai penawar kekecewaan yang telah kutorehkan pada mereka. Aku diterima, dan diberi kemudahan olehNya, untuk dapat masuk UGM sehingga dapat SPMA 0, dengan pinjaman uang dari saudara aku mengambil Teknik Pertanian sebagai salah satu dari masa depanku. Selalu ada jalan bagi setiap permasalahan ekonomi yang kualami. Lewat jualan di kampus untuk mkan sehari-hari, dapat sepeda-yang mengantarkan ku dari pogung lor ke kampus- gratis, sampai aku bertemu dengan besiswa R-ZIZ . Alhamdulilah rezeki yang diberikan Allah lewat R-ZIZ ini sangat membantuku dalam pemenuhan kebutuhan kuliahku.
Aku memnyadari betul, bahwasanya mindsetku dahulu ketika memandang kuliah sebagai sarana untuk mengubah nasib, dengan berorientasi pada materi keliru. Seorang mahasiwa sebagai calon intelektual merupakan motor pengubah keterpurukan masyarakat dengan kemampuan berfikirnya, Oleh sebab itu saya punya aktivitas lain selain kuliah, yaitu diorganisasi dan mengkaji islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar