Artikel Populer


Selamat Datang di Blog Resmi RZIS UGM

Jumat, 28 Juni 2013

by Rita Dhamayanti D3 Teknik Sipil 2010

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Perkenalkan nama saya Rita, saya anak terakhir dari 3 bersaudara. Saya akan menceritakan sedikit dari perjalann hidup saya. Saya berasal dari keluarga yang sederhana. Ibu saya mengajarkan saya dan kakak-kakak saya menabung di sekolah, yaitu dengan menyisihkan uang jajan yang sedikit. Tabungan itu sewaktu-waktu diambil untuk membeli keperluan sekolah.


Hidup keluarga kami berubah, saat saya kelas 3 SD bapak saya kecelakaan parah. Koma selama 3 minggu. Ibu saya berpikir keras bagaimana membiayai perawatan di rumah sakit, untuk makan saja susah. Akhirnya dengan berbekal catatan buku kenalan bapak saya ibu saya mendatangi rumah teman-teman bapak saya, berharap mereka dapat membantu pengobatan bapak. Kakek, nenek, om, dan bulik saya yang berasal dari bapak saya kaya. Namun, sedikit pun mereka tidak mau membantu, menjenguk bapak saya saja tidak mau, apalagi membantu. Sampai sekarang tidak mau kenal lagi dengan bapak saya. Saya ingat sekali saya di rumah sakit menangis dengan ibu saya, ibu saya hanya tidak menginginkan saya menjadi yatim seperti dulu ibu saya sewaktu kecil sudah ditinggal oleh kakek. Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang, walaupun keluarga tidak mau membantu tapi teman-teman bapak mau dengan ikhlas membantu kami. Rumah sakit jauh dari rumah kami, ibu merawat bapak di rumah sakit, saya di rumah dengan kakak saya yang masih smp, tanpa sepengetahuan ibu saya dan kakak-kakak saya mencari rongsok untuk makan di rumah, keluarga bapak tidak ada yang peduli dengan kami. Hanya ibu yang berjuang seorang diri merawat bapak. 1 bulan dirawat di rumah sakit, karena tak ada biaya ibu membawa pulang ayah ke rumah padahal bapak saya belum sembuh. Bapak saya gagar otak dan tulang tangan kanannya pisah 1 cm.

Bapak saya masih sakit, tidak bisa bekerja. Dengan belas kasihan teman-teman bapak kami dapat hidup dengan hidup sehemat mungkin. Ada teman bapak yang membantu menyekolahkan kakak-kakak saya. Ibu selama bertahun-tahun dengan setia merawat bapak. Saya hanya bisa belajar baik, saya mendapat juara 1 sampai smp. Bapak saya mendorong saya masuk SMA favorit, bapak saya terpaksa bekerja sebisanya untuk menyekolahkan saya.


Kakak-kakak saya sekolah cuman sampai sma, mencari kerja susah. Hal ini mendorong saya ingin kuliah, berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik dari kakak. Kakak saya sudah menikah semua, mereka hanya cukup untuk menghidupi keluarganya, tidak bisa membantu menguliahkan saya. Awalnya bapak saya tidak setuju saya kuliah, bapak saya menyuruh saya menikah saja. Saya ngotot kuliah di UGM, akhirnya bapak menyetujuinya. Bapak saya bekerja keras mencari uang. Teman-teman bapak saya sudah pada pensiun jadi tidak bisa membantu seperti dulu mereka sekarang hanya bisa membantu mencukupi makan di rumah. Bapak saya kerja sebulan rata-rata dapat 300 ribu.

Masuk kuliah tidak ada keringanan SPMA, harus bibayar dicicil tiap semester. Semakin memberatkan ibu saya. Sebulan saya dikasih paling banyak 150.000 untuk makan sebulan dan kebutuhan kuliah, ada buku, ngprint, ngopi tugas. dibekali mi 1 kardus. Saya makan mi dan kadang telor. Itu menyebabkan saya kurang gizi dan sakit-sakitan. Namun saya tidak memberitahu orang tua saya. Jurusan saya amat sangat membutuhkan laptop saya tidak punya. Tugas kuliah pun tidak saya kerjakan, saya tidak mampu menyewa di rentalan yang sejam 3000 rupiah. Kuliah saya menggambar, basicnya menggambar, mungkin saya salah masuk jurusan. Saya mengulang di mata kuliah yang membutuhkan laptop, dari semester 1 sampai 3 , ipk saya sedikit sekali tapi teori saya sedikit lancar. Semester 1 sampai 3 saya tidak bisa mendaftar beasiswa karena saya memang gaptek, jadi mengedit pdf tidak bisa word juga tidak lancar. Teman tidak mau mengajarkan mereka takut ada saingan dalam mendapatkan beasiswa. Di semester 4 saya diajari teman saya mendaftar beasiswa BBM, akhirnya ada yang baik hati mengajarkan. Di semester 3 akhir saya dibelikan laptop, hasil menabung ibu saya. Semester 3 saat ujian utama saya sakit, sehingga tidak bisa mengikuti ujian mungkin gara-gara pola hidup saya yang tidak sehat. Saya tidak bisa minta surat dokter karena teman saya tidak ada yang mau mengantarkan saya. Saya hanya bisa terbaring lemah di kosan. Di semester 4 dengan bantuan laptop kuliah saya lancar dan alhamdulillah saya dapat beasiswa bbm, uang saku saya untuk makan dan kuliah jadi naik. Saya mungkin baru bisa TA atau magang di semester 8. Aamiin ya Allah. Di semester 6 saya membaca di mading ada tunjangan hidup RZIS, saya mendaftar dan alhamdulillah dapat, walaupun dapat parsial saya sangat senang, itu sangat berarti bagi saya. Dengan adanya BBM dan tunjangan RZIS itu sangat menunjang kuliah saya. Saya ingin sekali segera wisuda dan kerja, bapak saya sudah tua, saya sudah sangat merepotkan bapak. Semoga saya kelak dapat membahagiakan orang tua saya dan membalas budi pada teman-teman bapak.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar