Assalamu’alaikum
Wr. Wb.
Perkenalkan
nama saya Rita, saya anak terakhir dari 3 bersaudara. Saya akan menceritakan
sedikit dari perjalann hidup saya. Saya berasal dari keluarga yang sederhana.
Ibu saya mengajarkan saya dan kakak-kakak saya menabung di sekolah, yaitu
dengan menyisihkan uang jajan yang sedikit. Tabungan itu sewaktu-waktu diambil
untuk membeli keperluan sekolah.
Hidup
keluarga kami berubah, saat saya kelas 3 SD bapak saya kecelakaan parah. Koma
selama 3 minggu. Ibu saya berpikir keras bagaimana membiayai perawatan di rumah
sakit, untuk makan saja susah. Akhirnya dengan berbekal catatan buku kenalan
bapak saya ibu saya mendatangi rumah teman-teman bapak saya, berharap mereka
dapat membantu pengobatan bapak. Kakek, nenek, om, dan bulik saya yang berasal
dari bapak saya kaya. Namun, sedikit pun mereka tidak mau membantu, menjenguk
bapak saya saja tidak mau, apalagi membantu. Sampai sekarang tidak mau kenal
lagi dengan bapak saya. Saya ingat sekali saya di rumah sakit menangis dengan
ibu saya, ibu saya hanya tidak menginginkan saya menjadi yatim seperti dulu ibu
saya sewaktu kecil sudah ditinggal oleh kakek. Alhamdulillah, Allah Maha
Penyayang, walaupun keluarga tidak mau membantu tapi teman-teman bapak mau
dengan ikhlas membantu kami. Rumah sakit jauh dari rumah kami, ibu merawat
bapak di rumah sakit, saya di rumah dengan kakak saya yang masih smp, tanpa
sepengetahuan ibu saya dan kakak-kakak saya mencari rongsok untuk makan di
rumah, keluarga bapak tidak ada yang peduli dengan kami. Hanya ibu yang
berjuang seorang diri merawat bapak. 1 bulan dirawat di rumah sakit, karena tak
ada biaya ibu membawa pulang ayah ke rumah padahal bapak saya belum sembuh.
Bapak saya gagar otak dan tulang tangan kanannya pisah 1 cm.
Bapak
saya masih sakit, tidak bisa bekerja. Dengan belas kasihan teman-teman bapak
kami dapat hidup dengan hidup sehemat mungkin. Ada teman bapak yang membantu
menyekolahkan kakak-kakak saya. Ibu selama bertahun-tahun dengan setia merawat
bapak. Saya hanya bisa belajar baik, saya mendapat juara 1 sampai smp. Bapak
saya mendorong saya masuk SMA favorit, bapak saya terpaksa bekerja sebisanya
untuk menyekolahkan saya.
Kakak-kakak
saya sekolah cuman sampai sma, mencari kerja susah. Hal ini mendorong saya
ingin kuliah, berharap mendapat pekerjaan yang lebih baik dari kakak. Kakak
saya sudah menikah semua, mereka hanya cukup untuk menghidupi keluarganya,
tidak bisa membantu menguliahkan saya. Awalnya bapak saya tidak setuju saya
kuliah, bapak saya menyuruh saya menikah saja. Saya ngotot kuliah di UGM,
akhirnya bapak menyetujuinya. Bapak saya bekerja keras mencari uang.
Teman-teman bapak saya sudah pada pensiun jadi tidak bisa membantu seperti dulu
mereka sekarang hanya bisa membantu mencukupi makan di rumah. Bapak saya kerja
sebulan rata-rata dapat 300 ribu.
Masuk
kuliah tidak ada keringanan SPMA, harus bibayar dicicil tiap semester. Semakin
memberatkan ibu saya. Sebulan saya dikasih paling banyak 150.000 untuk makan
sebulan dan kebutuhan kuliah, ada buku, ngprint, ngopi tugas. dibekali mi 1
kardus. Saya makan mi dan kadang telor. Itu menyebabkan saya kurang gizi dan
sakit-sakitan. Namun saya tidak memberitahu orang tua saya. Jurusan saya amat
sangat membutuhkan laptop saya tidak punya. Tugas kuliah pun tidak saya
kerjakan, saya tidak mampu menyewa di rentalan yang sejam 3000 rupiah. Kuliah
saya menggambar, basicnya menggambar, mungkin saya salah masuk jurusan. Saya
mengulang di mata kuliah yang membutuhkan laptop, dari semester 1 sampai 3 ,
ipk saya sedikit sekali tapi teori saya sedikit lancar. Semester 1 sampai 3 saya
tidak bisa mendaftar beasiswa karena saya memang gaptek, jadi mengedit pdf
tidak bisa word juga tidak lancar. Teman tidak mau mengajarkan mereka takut ada
saingan dalam mendapatkan beasiswa. Di semester 4 saya diajari teman saya
mendaftar beasiswa BBM, akhirnya ada yang baik hati mengajarkan. Di semester 3
akhir saya dibelikan laptop, hasil menabung ibu saya. Semester 3 saat ujian
utama saya sakit, sehingga tidak bisa mengikuti ujian mungkin gara-gara pola
hidup saya yang tidak sehat. Saya tidak bisa minta surat dokter karena teman
saya tidak ada yang mau mengantarkan saya. Saya hanya bisa terbaring lemah di
kosan. Di semester 4 dengan bantuan laptop kuliah saya lancar dan alhamdulillah
saya dapat beasiswa bbm, uang saku saya untuk makan dan kuliah jadi naik. Saya
mungkin baru bisa TA atau magang di semester 8. Aamiin ya Allah. Di semester 6
saya membaca di mading ada tunjangan hidup RZIS, saya mendaftar dan
alhamdulillah dapat, walaupun dapat parsial saya sangat senang, itu sangat
berarti bagi saya. Dengan adanya BBM dan tunjangan RZIS itu sangat menunjang
kuliah saya. Saya ingin sekali segera wisuda dan kerja, bapak saya sudah tua,
saya sudah sangat merepotkan bapak. Semoga saya kelak dapat membahagiakan orang
tua saya dan membalas budi pada teman-teman bapak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar